Lois Duncan mungkin nggak pernah menyangka kalau novel remaja misterinya yang penuh pesan moral itu bakal dibuat jadi tontonan berdarah-darah. “I Know What You Did Last Summer“, yang dia tulis tahun 1973, bukan cuma diambil alih oleh Hollywood, tapi juga di-remix jadi slasher brutal tahun 1997. Hasilnya? Penulisnya sampai bilang, “Aku nonton dan langsung trauma.” Serius.
Buat kamu yang belum tahu, Duncan bikin novel ini dengan gaya klasik thriller. Nggak ada pembunuh berjas hujan yang ngejar-ngejar orang pakai kail. Nggak ada adegan berdarah. Cuma cerita empat remaja yang menyimpan rahasia soal kecelakaan yang mereka sebabkan, lalu dihantui oleh konsekuensi moral dan rasa bersalah.
Lalu datanglah film adaptasi—Jennifer Love Hewitt teriak-teriak, Freddie Prinze Jr. kabur-kaburan, dan The Fisherman muncul sebagai ikon pembunuh 90-an. Duncan? Dia hanya bisa geleng-geleng sambil bilang, “Aku nggak diberi tahu. Dan sebagai ibu dari anak yang dibunuh di kehidupan nyata, ini sangat menyakitkan.”
Yup, putri Duncan, Kaitlin Arquette, meninggal tertembak di usia 18 tahun. Maka bisa kamu bayangkan rasa ngilu dan betrayal yang dia rasakan ketika film adaptasi novelnya malah dibikin penuh adegan sadis dan darah muncrat ke mana-mana.

“Kenapa Film Adaptasi Suka Sok-Sokan?”
Pertanyaannya sekarang: kenapa sih film adaptasi suka banget berubah 180 derajat dari bukunya? Emang boleh?Jawabannya? Boleh. Tapi jangan asal.
Dari segi hukum, film adaptasi itu sah-sah aja selama produser punya lisensi dari pemilik hak cipta. Mereka bisa ganti karakter, ubah setting, atau bahkan bikin ending baru, selama nggak melanggar perjanjian kontrak awal. Tapi dari segi etika, ini jadi ranah yang abu-abu.
Ada penulis yang santai. Kayak Margaret Atwood yang malah suka-suka aja lihat The Handmaid’s Tale diolah jadi lebih ekstrem di serial TV. Tapi ada juga yang muak dan ingin semua salinan filmnya dibakar.
Klub “Penulis Kecewa Berat”
Lois Duncan bukan sendirian. Banyak penulis yang pengen tarik napas dalam-dalam setiap kali film adaptasi muncul:
P.L. Travers benci setengah mati sama Mary Poppins versi Disney. Katanya, Walt Disney merusak tone cerita yang lebih kelam dan filosofis jadi terlalu ceria dan nyanyi-nyanyi.
Michael Ende (The NeverEnding Story) bilang film adaptasi novelnya adalah “a revolting commercial trash.” Gokil.
Stephen King sendiri ngerasa The Shining versi Stanley Kubrick menghilangkan sisi manusiawi tokohnya dan malah mengangkat horor yang terlalu dingin dan nihilistik. Sampai bikin dia bikin ulang versi TV-nya sendiri.
Semua kasus ini punya satu benang merah: penulis merasa cerita mereka dijajah oleh industri film demi kepentingan komersil.
Emang Film Harus Mirip Buku?
Enggak juga. Tapi kalau beda, ya jangan terlalu asal-asalan. Adaptasi ideal adalah ketika film bisa menangkap roh dari karya asli, meskipun plotnya berubah. Kayak Clueless yang adaptasi modern dari Emma karya Jane Austen. Berubah total, tapi essence-nya masih nempel. Atau Haider yang me-remake Hamlet di Kashmir—ganti konteks, tapi tetap menggigit.
Tapi kalau dari kisah psikologis jadi film berdarah-darah tanpa diskusi, kayak “I Know What You Did Last Summer”, ya bisa bikin trauma si penulis.
Jadi, Apa Pelajaran Moral dari Semua Ini?
Kalau kamu pembaca buku, jangan terlalu berharap banyak dari film adaptasi. Kalau kamu film maker, jangan mentang-mentang pegang lisensi lantas mengacak-acak cerita seenak jidat.
Dan kalau kamu Lois Duncan? Kamu berhak kecewa. Karena karya yang kamu bangun dengan hati, diubah jadi tontonan yang bikin kamu teringat trauma paling kelam.