“Omniscient Reader: The Prophecy” – Film Bertabur Bintang, Tapi Tak Mampu Menarik Perhatian Penonton

Saat diumumkan sebagai salah satu film Korea Selatan paling ambisius musim panas 2025, “Omniscient Reader: The Prophecy” langsung mencuri perhatian. Dibintangi aktor-aktor papan atas seperti Lee Min-ho, Ahn Hyo-seop, dan Jisoo BLACKPINK, serta disutradarai dengan skala produksi besar, film ini digadang-gadang akan menjadi blockbuster. Namun realitas berkata lain.

Baru sepuluh hari setelah perilisannya, film ini hanya mampu mengumpulkan sekitar 890.000 penonton di Korea Selatan, angka yang sangat jauh dari target 6 juta penonton yang diperlukan untuk menutup biaya produksinya yang mencapai lebih dari 30 miliar KRW (sekitar 335 miliar rupiah).

Sebagai proyek adaptasi dari web novel populer Omniscient Reader’s Viewpoint, ekspektasi publik begitu tinggi. Penonton berharap melihat dunia distopia yang kompleks dan penuh konflik moral hadir di layar lebar. Namun yang mereka dapatkan justru adaptasi yang banyak menyimpang dari materi aslinya.

Meski didukung jajaran aktor ternama : Lee Min-ho sebagai Yoo Joong-hyuk, Ahn Hyo-seop sebagai Kim Dok-ja, dan debut layar lebar Jisoo sebagai Lee Ji-hye, kualitas naskah dan pengembangan karakter dipertanyakan. Para penggemar setia web novel bahkan menyebut film ini sebagai “adaptasi setengah hati” yang menanggalkan elemen-elemen penting demi mengejar gaya sinema mainstream.

Tren OTT dan Krisis Penonton Bioskop

Kegagalan “Omniscient Reader: The Prophecy” juga menyoroti persoalan yang lebih besar: menurunnya minat menonton di bioskop Korea Selatan.

Menurut laporan pertengahan tahun dari Dewan Film Korea, hanya 42,5 juta penonton yang mengunjungi bioskop sepanjang paruh pertama 2025—turun 32,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan box office pun anjlok hingga 33,2%, menjadi 407,9 miliar KRW.

Para analis menyebut fenomena ini sebagai lingkaran setan yang semakin mempersulit industri film layar lebar untuk bertahan. Semakin banyak film yang gagal secara komersial, semakin cepat pula mereka dialihkan ke platform streaming seperti Netflix atau TVING. Di sisi lain, penonton menjadi semakin terbiasa menikmati film dari rumah—terutama dengan harga langganan OTT yang kini hampir setara dengan satu tiket bioskop.

“Penonton tahu bahwa mereka bisa menunggu beberapa bulan dan menonton di rumah dengan nyaman,” ujar salah satu analis industri kepada media lokal. “Ini membuat film-film bioskop kesulitan bernapas, bahkan sebelum mereka benar-benar tayang.”

Tahun Suram bagi Perfilman Korea?

Tahun lalu, industri perfilman Korea masih memiliki harapan. Dua film lokal, Exhuma dan The Roundup: Punishment, masing-masing mencatat lebih dari 11 juta penonton. Namun tahun ini, rekor tertinggi sementara justru dipegang oleh Yadang: The Snitch, dengan hanya 3,38 juta penonton dan pendapatan 32 miliar KRW—angka yang jauh dari kata “sukses besar”.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, bahwa tanpa perubahan signifikan—baik dalam strategi promosi, distribusi, maupun konten—film-film Korea bisa sepenuhnya tersingkir dari bioskop dan menjadi eksklusif tayang di platform digital.

Penonton Tak Bisa Dibohongi oleh Nama Besar

Kisah “Omniscient Reader: The Prophecy ” menjadi pelajaran penting: nama besar dan bujet fantastis tidak selalu menjamin keberhasilan. Penonton masa kini, terutama generasi muda yang menjadi target pasar utama, menaruh perhatian besar pada kualitas cerita dan kedalaman karakter, bukan sekadar siapa yang bermain di dalamnya.

Netflix mungkin akan menjadi rumah terakhir bagi film ini—sebuah ironi untuk film yang awalnya ditujukan sebagai kebanggaan layar lebar.

Source: rangkuman dari berbagai sumber media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *